12 Agustus, 2026

Menembus Batas Usia: Perjalanan Meraih Gelar Doktor S3 dalam 2 Tahun 2 Bulan






20 Tahun "Off" Buka Buku Scientific, Lulus Doktor S3 di Usia 59: Tidak Ada Kata Terlambat!


Siapa bilang belajar ada batas kedaluwarsa?

Di usia 57 tahun, saya memutuskan untuk kembali melompat ke dunia akademis. Jalur yang dipilih pun tidak main-main: Program Doktoral (S3) Manajemen Pendidikan Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta.

Jujur saja, pertimbangannya cukup mendalam. Terakhir kali saya merasakan bangku perkuliahan S2 adalah tahun 2003. Artinya, sudah 20 tahun saya tidak menyentuh buku teks kuliah, apalagi membedah artikel-artikel ilmiah modern.

Awalnya sempat terlintas keraguan: "Apakah di usia seperti ini saya masih sanggup?"

Keraguan itu sirna setelah saya berdiskusi dengan salah satu dosen di UIN Surakarta. Jawaban beliau singkat, namun membakar semangat:

“Bapak sangat mampu!”

Kalimat sederhana itulah yang menjadi amunisi rasa percaya diri (pede) saya untuk membulatkan niat dan melangkah mantap.

Kelas Kecil, Semangat Besar

Di kelas S3, kami hanya bersembilan. Yang unik, beberapa dosen pengajar usianya jauh lebih muda dari saya. Namun, pesimis? Sama sekali tidak. Bagi saya, ilmu tidak pernah memandang usia.

Pengalaman bertahun-tahun di lapangan menjadi modal yang sangat berharga. Berbekal rekam jejak memimpin lembaga—pernah dipercaya menjadi Direktur Pondok sekaligus Kepala Sekolah di usia 23 tahun—membuat dinamika perkuliahan terasa begitu hidup. Baik saat tatap muka langsung maupun diskusi via Zoom, saya kerap dipercaya rekan-rekan untuk memimpin alur presentasi dan diskusi.

Perjalanan 2 Tahun 2 Bulan: Dari Proposal hingga Toga

Alhamdulillah, berkat komitmen, konsistensi, dan pertolongan Allah SWT, maraton akademik ini berhasil diselesaikan dalam waktu 2 tahun 2 bulan.

Jika ditengok kembali, setiap episodenya terasa sangat berkesan:

 * 📌 September 2023 – Resmi masuk dan memulai perkuliahan S3

 * 📌 November 2024 – Lulus Ujian Seminar Proposal

 * 📌 Agustus 2025 – Lulus Ujian Seminar Hasil

 * 📌 Januari 2026 – Melewati Ujian Tertutup

 * 📌 Februari 2026 – Melaksanakan Ujian Terbuka

 * 🎓 Juli 2026 – Momen kebanggaan: Wisuda S3

Riset Disertasi

Untuk tugas akhir pertanggungjawaban akademis ini, saya memilih penelitian kuantitatif dengan 4 variabel yang diangkat langsung dari dunia nyata yang dekat dengan keseharian saya:

"PENGARUH PERILAKU KERJA INOVATIF, KOMPETENSI DAN PERSEPSI ATAS KOMPENSASI TERHADAP KINERJA PROFESIONAL PADA GURU DI YAYASAN AL ABIDIN SURAKARTA TAHUN 2024"

Catatan Pengingat Diri

Perjalanan ini menegaskan satu hal penting: tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu dan menantang batas kemampuan diri. Selama niat diikat kuat, pengalaman dipadukan dengan kerendahan hati untuk belajar hal baru, serta doa terus dilangitkan, jalan akan selalu dibukakan.

Semoga cerita singkat ini bisa memantik semangat bagi siapa saja yang sedang ragu untuk melangkah meraih mimpinya. Berapa pun usia Anda hari ini, teruslah belajar dan berkarya! 📚✨

21 Desember, 2025

Menjemput Husnul Khatimah di Batas Usia

 

Tausiyah Haji Jihad Pagi: Menjemput Husnul Khatimah di Ambang Finish

21 Desember 2025 - Masjid Darul Hayat Banyuanyar Surakarta


1. Pembukaan: Syukur atas Karunia Umur

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi ahyana bakda maa amatana wa ilaihi nusyur.

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kita kembali setelah mematikan kita (tidur), dan hanya kepada-Nya kita akan kembali.

Bapak dan Ibu jamaah haji yang dirahmati Allah, mari kita awali pagi yang berkah ini dengan memohon kepada Allah melalui doa yang pernah diajarkan Rasulullah SAW:

{اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَنِي وَأَطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأَحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي}

"Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku serta berkahilah apa yang Engkau karuniakan. Panjangkanlah hidupku dalam ketaatan kepada-Mu, perbaguslah amalku, dan ampunilah dosaku." (HR. Bukhari & Muslim)

Doa ini adalah doa yang seimbang. Kita meminta kecukupan dunia (harta dan keturunan) yang berkah, namun muara utamanya adalah ketaatan, perbaikan amal, dan ampunan Allah.


2. Batas Usia Umat Muhammad: Filosofi "Sewidak"

Rasulullah SAW memberikan pengingat tentang "jatah" umur kita:

{أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ}

"Umur umatku berkisar antara 60 hingga 70 tahun, dan sangat sedikit di antara mereka yang melewati itu." (HR. Tirmidzi)

Bagi kita yang sudah menginjak usia 60 tahun, dalam filosofi Jawa sering disebut "Sewidak". Ada pesan mendalam di sana: Sewidak artinya "Seneng Wancine Tindak" (Senang karena sudah waktunya berangkat/pulang).

Pulang ke mana? Pulang ke haribaan Allah. Usia 60 adalah ujung batas, peringatan bahwa waktu kita di dunia sudah lebih sedikit daripada waktu yang telah kita lalui.


3. "An-Nadzir": Peringatan yang Telah Datang

Dalam QS. Fathir ayat 37, Allah mengingatkan penduduk neraka yang menyesal:

"Bukankah Kami telah memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir... dan (bukankah pula) telah datang kepadamu seorang pemberi peringatan (An-Nadzir)?"

Para ulama, termasuk Ibnu Abbas RA, menafsirkan bahwa:

  1. An-Nadzir adalah diutusnya Rasulullah SAW.

  2. An-Nadzir adalah "As-Syaib" alias Uban.

Bapak dan Ibu, uban yang tumbuh di rambut kita bukan sekadar tanda penuaan, tapi "surat cinta" dari Allah yang mengingatkan bahwa ajal kian dekat. Dahulu, penduduk Madinah jika sudah mencapai usia 40 tahun, mereka mulai menarik diri dari kesibukan duniawi dan fokus penuh untuk ibadah.


4. "A'dzara": Tiada Lagi Alasan di Hadapan Allah

Rasulullah SAW bersabda:

{أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً}

"Allah tidak lagi menerima alasan bagi seseorang yang telah Dia panjangkan umurnya hingga mencapai 60 tahun." (HR. Bukhari)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa usia 60 adalah Batas Udzur. Tidak ada lagi alasan untuk berkata, "Nanti kalau sudah tua saya baru mau tobat," karena Bapak dan Ibu sudah berada di masa "tua" itu.

Dulu mungkin waktu kita habis untuk healing, belanja (shopping), memancing, atau touring. Namun di usia ini, organ tubuh kita sudah dipakai selama 60 tahun. Mesinnya sudah mulai aus. Ini adalah kode keras dari Allah agar kaki kita lebih sering melangkah ke masjid daripada ke mall.


5. Pelajaran dari Nabi Musa AS

Menolak kematian adalah sifat manusiawi. Ingatlah kisah Nabi Musa AS yang pernah menampar Malaikat Maut karena datang tanpa izin. Namun, ketika Allah memberikan pilihan untuk hidup lebih lama, Nabi Musa akhirnya memilih untuk wafat sekarang agar bisa lebih cepat bertemu dengan Allah.

Pelajaran bagi kita: Ajal tidak memberi tahu kapan ia datang. Ia bisa hadir saat kita sedang duduk santai atau saat sedang beribadah. Maka, cintailah akhirat melebihi dunia.


6. Menutup Sisa Usia dengan Indah (Tahsin fima Baqo)

Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin memberikan anjuran untuk meningkatkan kebaikan di akhir usia. Fokus kita sekarang adalah:

  • Mengurangi ambisi duniawi: Cukupkan apa yang ada.

  • Perbanyak Sedekah Jariyah: Tabungan yang akan menemani di alam kubur.

  • Kualitas Ibadah: Bukan lagi sekadar menggugurkan kewajiban, tapi menikmati setiap sujud.

Nasihat bijak dari Fudhail bin Iyadh kepada seorang lansia:

"Berbuat baiklah di sisa usiamu (Tahsin fima baqo), maka Allah akan mengampuni dosamu yang lampau dan dosa yang tersisa."


Penutup & Doa

Bapak dan Ibu jamaah haji yang mulia, kita sudah mendekati garis finish. Jangan sampai kita "kram" atau jatuh di akhir lintasan. Mari kita fokus pada Husnul Khatimah.

Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, menjadikan setiap hembusan nafas kita sebagai dzikir, dan menerima amal haji kita sebagai bekal terbaik menghadap-Nya.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.