15 Oktober, 2025

Menjadi Mahasiswa Lagi di Usia 56 : Nekat atau Panggilan Jiwa?

Menjadi Mahasiswa Lagi di Usia 56: 

Nekat atau Panggilan Jiwa?


Banyak orang bilang, usia 50-an itu waktunya "ngeteh sore" sambil menikmati hasil kerja keras masa muda. Jujur saja, secara aktivitas, hari-hari saya sudah sangat penuh. Ada bisnis yang harus diputar, kegiatan sosial yang menanti, hingga sepuluh jabatan strategis yang saya emban. Rasanya kalau mau istirahat pun, sudah sangat layak.

Tapi, ada satu pertanyaan yang terus menggelitik di kepala saya: "Sampai mana sih batas kemampuan saya untuk belajar?"

Saya bukan dosen, bukan akademisi, apalagi guru. Saya hanyalah seorang praktisi yang kebetulan mengelola Yayasan Pendidikan Al Abidin. Namun, saya punya mimpi besar. Saya membayangkan, suatu saat nanti jika Al Abidin berkembang memiliki universitas sendiri, lembaga ini tentu butuh figur-figur Doktor. Saya ingin menjadi salah satu yang berguna di sana.


"Emangnya Saya Mampu?"

Keraguan itu sempat ada. Sampai suatu hari, saya bertanya kepada seorang kawan, seorang Doktor di UIN Surakarta.

"Gimana sih rasanya kuliah S3? Susah nggak? Kira-kira orang seperti saya ini mampu nggak ya?" tanya saya ragu.

Jawaban beliau di luar dugaan, "Nggak sulit, Pak. Saya yakin jenengan lebih dari mampu."

Satu kalimat itu menjadi bahan bakar. Akhirnya, saya putuskan untuk "terjun payung". Saya urus pendaftaran online, lengkapi semua syarat, bayar, dan... resmi! Saya jadi mahasiswa S3 di UIN Surakarta.


Menjadi "Pak Kyai" di Antara Anak Muda

Masuk kelas pertama kali, pemandangannya cukup kontras. Teman-teman sekelas saya rata-rata masih muda, fresh graduate S2, dosen-dosen muda, guru, hingga PNS. Dari 9 orang di kelas, hanya saya dan satu teman dari Jogja yang bisa dibilang sudah senior secara usia.

Meski paling tua, saya tidak mau "minta dimaklumi". Justru saya merasa tertantang. Setiap tugas saya kerjakan dengan serius, presentasi saya siapkan dengan matang, dan setiap diskusi saya ikuti dengan penuh gairah.

Lucunya, saking "bapak-bapaknya" saya di sana, teman-teman sekelas memanggil saya dengan sebutan Pak Kyai. Suasananya hangat sekali. Bahkan para dosen, yang usianya mungkin sebaya atau lebih muda dari saya, sering memberikan apresiasi karena keaktifan saya dalam diskusi. Ternyata, pengalaman hidup selama puluhan tahun di dunia nyata adalah modal besar dalam memahami teori-teori akademis.


Melawan Arus dengan Metode Kuantitatif

Satu momen yang paling saya ingat adalah saat memasuki semester 3. Alhamdulillah, IP saya selalu stabil di angka 4,0. Sempurna. Tapi ujian sesungguhnya dimulai saat memilih metode disertasi.

Dosen bertanya, "Mau ambil kualitatif atau kuantitatif?"

Karena S2 saya dulu sudah akrab dengan tesis kuantitatif, saya mantap menjawab: Kuantitatif. Ternyata, dari semua teman seangkatan, hanya saya sendiri yang berani mengambil jalur hitung-hitungan ini. Banyak yang bilang kuantitatif itu rumit, tapi bagi saya, ini adalah cara saya menguji ketajaman logika di usia senja.


Garis Finish yang Tak Terduga

Perjalanan yang saya kira akan berdarah-darah, ternyata berjalan dengan sangat lancar atas izin Allah. Dimulai dari proposal, penelitian, seminar hasil, hingga ujian tertutup, semuanya mengalir begitu saja.

Saya masuk sebagai mahasiswa di Agustus 2023, dan siapa sangka, di Oktober 2025 saya sudah menempuh ujian tertutup. Total waktu tempuh saya hanya 2 tahun 2 bulan.

Bagi saya, pencapaian ini bukan soal pamer gelar. Ini adalah pembuktian pada diri sendiri bahwa usia hanyalah angka, tapi semangat adalah mesin penggeraknya. Selama kita punya niat yang tulus—seperti niat saya ingin memajukan Al Abidin—maka Allah akan membukakan jalan, memberikan kesehatan, dan memudahkan segala urusan.

Jadi, buat teman-teman yang merasa "sudah terlalu tua" untuk belajar lagi, percayalah: Otak kita tidak akan pernah penuh, yang ada hanya kemauan kita yang seringkali surut.

Bismillah, terus melangkah!














13 Februari, 2025

AKTIFITAS NON LABA





Sebagai seorang muslim, kita harus bergerak terus untuk kemanfaatan masyarakat sekitar, menjadi muslim yang baik (khoir) berarti menjadi manusia yang bermanfaat bagi seluruh manusia. (Linnaas).

"Khoirun naas anfa'uhum Linnas"

Saat mencari pahala di ladang amal jariyah , cobalah untuk tidak menunggu balasan dunia, baik berupa uang, benefit, nama terkenal dan lainya.

Kegiatan non laba saya :

  1. Pembina Yayasan Al Abidin Surakarta.
  2. Pembina Yayasan PP Bilal bin Rabah Sukoharjo 
  3. Bendahara Yayasan Al Mukmin Ngruki
  4. Pengawas Yayasan PP Salman Al Farisi Karangpandan
  5. Ketua Lazis UPZ Al Mukmin 
  6. Pimpinan Proyek Pondok Ngruki 
  7. Pengelola Guesthouse Syariah Al Mukmin 
  8. Ketua pengawas koperasi Taawun Pondok Ngruki.
  9. Ketua Dewan Syuro Ikatan Alumni Ngruki (Ikappim)
  10. Anggota Dewan syariah MES Surakarta 
  11. Ketua Koordinator Pengelola Ekonomi Pesantren Solo Raya
  12. Senat Sekolah Tinggi Al Mukmin Sukoharjo
  13. Ketua Pengawas Koperasi Taawun Ngruki
  14. Penasehat Takmir Masjid Syariah Banyuanyar
  15. Penasehat Koperasi warga RT 02 Banyuanyar

"Jika engkau berhenti aktifitas , maka carilah aktifitas baru"

"Faidza Faroghta Fanshob"

Semoga Alloh SWT karunia saya kesehatan dan kekuatan sehingga semakin bisa bermanfaat untuk seluas mungkin masyarakat sekitar saya.

Aamiiin.

17 November, 2024

WAKAF PRODUKTIF

 Pengajian Haji Kelompok Satu

17 November 2024

 (hari berangkat umroh Dubai)





Doa 


📖 HR. at-Tirmidzi: 3412@qidbot

 Hasan Gharib


قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  كَانَ مِنْ دُعَاءِ دَاوُدَ يَقُولُ 


اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِييُبَلِّغُنِي حُبَّكَ


 اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنْ الْمَاءِالْبَارِدِ 


Ya Allah, aku memohon kepadaMu kecintaanMu, dan kecintaan orang yang mencintaiMu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaanMu. 


Ya Allah, jadikanlah kecintaanMu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin). 


(HR. at-Tirmidzi: 3412)


 

  • Doa kita diatas adalah mohon supaya Alloh memberikan hub Nya, cinta Nya, kasih sayang Nya. ( Habib)
  • Kita juga minta supaya Alloh memberikan diantara kita sesama hamba Alloh, para haji yang hadir ini, saling cinta, saling sayang, saling peduli. Wa hubba man yuhibbuka.
  • Yang ketiga kita minta kepada Alloh supaya kita diberi taufik dan hidayah supaya gemar beramal yang menyebabkan hadirnya cinta dan kasih sayang dari Alloh.
  • Doa kedua  itu memohon supaya kadar cinta kita kepada Alloh ini lebih tinggi dari cinta kita kepada diri kita sendiri, dan melebihi cinta kita kepada keluarga dan harta kita.


HAJI MABRUR


📖 HR. an-Nasai: 2575@qidbot


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ لَيْسَ لَهَا جَزَاءٌ إِلَّاالْجَنَّةُ وَالْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا


dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah  telah bersabda: "Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali Surga, dan umrah satu hingga umrah yang lain merupakan penghapus dosa di antara keduanya."

(HR. an-Nasai: 2575)


  • Jamaah haji berkumpul rutin untuk menjaga ke mabrur an 
  • Mabrur dari kata Al Birra, artinya ketaatan, atau sesuatu yang tidak tercampur dosa. Ada pendapat mabrur berarti diterima amalnya.


  • jaga mabrur dengan pengajian supaya baterai iman kita terus kena cas, sehingga selalu Yazid ziyadah.
  • Iman naik turun walaupun sudah ada peringatan di depan mata
  • Masjid saat bencana
  • Zamzam sudah 2800 tahun lebih diminum tidak habis.
  • Saat musibah minta 


 AYAT: ⭐⭐⭐


📖 1QS. Ali 'Imran: 92/QS_3_92


  «« لَن تَنَالُوا۟ »»   الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا۟ مِمَّا تُحِبُّونَۚ وَمَاتُنفِقُوا۟ مِن شَىْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.




Wakaf produktif


📖 HR. ad-Daruquthni: 4368@qidbot


عٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ أَصَبْتُ أَرْضًابِخَيْبَرَ، فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا مَا أَصَبْتُمَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ « إِنْ شِئْتَ تَصَدَّقْتَ بِهَا وَحَبَسْتَ أَصْلَهَا »،قَالَ فَجَعَلَهَا عُمَرُ لَا تُبَاعُ وَلَا تُوهَبُ وَلَا تُورَثُ، وَتَصَدَّقَبِهَا عَلَى الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَالْغُزَاةِ فِيسَبِيلِ اللَّهِ وَفِي الرِّقَابِ وَالضَّيْفِ، لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَاأَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَيُطْعِمَ صَدِيقًا غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ، وَأَوْصَىبِهَا إِلَى حَفْصَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ثُمَّ إِلَى الْأَكَابِرِ مِنْ آلِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُهَذَا لَفْظُ أَبِي مَسْعُودٍ، قَالَ أَبُومَسْعُودٍ هَذَا أَجْوَدُ حَدِيثٍ رَوَاهُ ابْنُ عَوْنٍ، زَادَ مُعَاذٌوَأَوْصَى بِهَا إِلَى حَفْصَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ثُمَّ إِلَى الْأَكَابِرِ مِنْآلِ عُمَرَقَالَ ابْنُ عَوْنٍ فَحَدَّثْتُ بِهِ ابْنَ سِيرِينَ، فَقَالَ غَيْرَمُتَأَثِّلٍ مَالًا


dari Ibnu Umar, bahwa Umar ra berkata, "Aku pernah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu aku berkata, 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah memperoleh sebidang tanah yang mana aku belum pernah memperoleh harta yang lebih berharga daripada itu'."


Rasulullah  pun bersabda, "Bila mau, engkau menyedekahkannya dan mewakafkan pokoknya'."


Maka Umar menetapkan bahwa itu tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak diwariskan, dan disedekahkan kepada orang-orang fakir, orang-orang miskin, Ibnu sabil, para pejuang fi sabilillah, untuk memerdekakan budak, untuk menjamu tamu, serta bagi yang mengurusnya boleh makan darinya dan memberi makan teman dengan tidak menimbun harta. Dan Dia mewasiatkannya kepada Hafshah ra, kemudian kepada para pemuka dari kalangan keluarga Umar ra. Ini lafazh Abu Mas'ud. Abu Mas'ud berkata, "Ini hadits terbaik yang diriwayatkan Ibnu Aun."


Mu'adz menambahkan, "dan dia mewasiatkannya kepada Hafshah, Ummul Mukminin, kemudian kepada para pemuka dari kalangan keluarga Umar."


Ibnu Aun berkata, "Kemudian ini aku ceritakan kepada Ibnu Sirin, lalu dia berkata, 'tanpa menyimpan harta'."

(HR. ad-Daruquthni: 4368)


📚 /Ringkas/terkait: 10