Menjadi Mahasiswa Lagi di Usia 56:
Nekat atau Panggilan Jiwa?
Banyak orang bilang, usia 50-an itu waktunya "ngeteh sore" sambil menikmati hasil kerja keras masa muda. Jujur saja, secara aktivitas, hari-hari saya sudah sangat penuh. Ada bisnis yang harus diputar, kegiatan sosial yang menanti, hingga sepuluh jabatan strategis yang saya emban. Rasanya kalau mau istirahat pun, sudah sangat layak.
Tapi, ada satu pertanyaan yang terus menggelitik di kepala saya: "Sampai mana sih batas kemampuan saya untuk belajar?"
Saya bukan dosen, bukan akademisi, apalagi guru. Saya hanyalah seorang praktisi yang kebetulan mengelola Yayasan Pendidikan Al Abidin. Namun, saya punya mimpi besar. Saya membayangkan, suatu saat nanti jika Al Abidin berkembang memiliki universitas sendiri, lembaga ini tentu butuh figur-figur Doktor. Saya ingin menjadi salah satu yang berguna di sana.
"Emangnya Saya Mampu?"
Keraguan itu sempat ada. Sampai suatu hari, saya bertanya kepada seorang kawan, seorang Doktor di UIN Surakarta.
"Gimana sih rasanya kuliah S3? Susah nggak? Kira-kira orang seperti saya ini mampu nggak ya?" tanya saya ragu.
Jawaban beliau di luar dugaan, "Nggak sulit, Pak. Saya yakin jenengan lebih dari mampu."
Satu kalimat itu menjadi bahan bakar. Akhirnya, saya putuskan untuk "terjun payung". Saya urus pendaftaran online, lengkapi semua syarat, bayar, dan... resmi! Saya jadi mahasiswa S3 di UIN Surakarta.
Menjadi "Pak Kyai" di Antara Anak Muda
Masuk kelas pertama kali, pemandangannya cukup kontras. Teman-teman sekelas saya rata-rata masih muda, fresh graduate S2, dosen-dosen muda, guru, hingga PNS. Dari 9 orang di kelas, hanya saya dan satu teman dari Jogja yang bisa dibilang sudah senior secara usia.
Meski paling tua, saya tidak mau "minta dimaklumi". Justru saya merasa tertantang. Setiap tugas saya kerjakan dengan serius, presentasi saya siapkan dengan matang, dan setiap diskusi saya ikuti dengan penuh gairah.
Lucunya, saking "bapak-bapaknya" saya di sana, teman-teman sekelas memanggil saya dengan sebutan Pak Kyai. Suasananya hangat sekali. Bahkan para dosen, yang usianya mungkin sebaya atau lebih muda dari saya, sering memberikan apresiasi karena keaktifan saya dalam diskusi. Ternyata, pengalaman hidup selama puluhan tahun di dunia nyata adalah modal besar dalam memahami teori-teori akademis.
Melawan Arus dengan Metode Kuantitatif
Satu momen yang paling saya ingat adalah saat memasuki semester 3. Alhamdulillah, IP saya selalu stabil di angka 4,0. Sempurna. Tapi ujian sesungguhnya dimulai saat memilih metode disertasi.
Dosen bertanya, "Mau ambil kualitatif atau kuantitatif?"
Karena S2 saya dulu sudah akrab dengan tesis kuantitatif, saya mantap menjawab: Kuantitatif. Ternyata, dari semua teman seangkatan, hanya saya sendiri yang berani mengambil jalur hitung-hitungan ini. Banyak yang bilang kuantitatif itu rumit, tapi bagi saya, ini adalah cara saya menguji ketajaman logika di usia senja.
Garis Finish yang Tak Terduga
Perjalanan yang saya kira akan berdarah-darah, ternyata berjalan dengan sangat lancar atas izin Allah. Dimulai dari proposal, penelitian, seminar hasil, hingga ujian tertutup, semuanya mengalir begitu saja.
Saya masuk sebagai mahasiswa di Agustus 2023, dan siapa sangka, di Oktober 2025 saya sudah menempuh ujian tertutup. Total waktu tempuh saya hanya 2 tahun 2 bulan.
Bagi saya, pencapaian ini bukan soal pamer gelar. Ini adalah pembuktian pada diri sendiri bahwa usia hanyalah angka, tapi semangat adalah mesin penggeraknya. Selama kita punya niat yang tulus—seperti niat saya ingin memajukan Al Abidin—maka Allah akan membukakan jalan, memberikan kesehatan, dan memudahkan segala urusan.
Jadi, buat teman-teman yang merasa "sudah terlalu tua" untuk belajar lagi, percayalah: Otak kita tidak akan pernah penuh, yang ada hanya kemauan kita yang seringkali surut.
Bismillah, terus melangkah!







.jpeg)





