16 Agustus, 2026

Mohon kebaikan di usia senja

 

PENGAJIAN AHAD PAGI (JIHAD PAGI) 
HAJI BANYUANYAR SATU 
16 AGUSTUS 2026

Oleh : Dr. Drs. H. Nurdin Urbayani, MM. CWC.




Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bapak dan Ibu, para tamu Allah (Dhuyufurrahman) yang saya muliakan. Bagaimana kabarnya hari ini? Alhamdulillah, semoga kesehatan dan keberkahan selalu menyertai langkah kita di tanah suci ini.

 1. Pembukaan dengan Doa Rasulullah SAW

Mari kita awali dengan sebuah doa yang sangat indah, yang sering dipanjatkan oleh Baginda Rasulullah SAW:



 
Makna Doa:
Doa ini adalah kunci kebahagiaan dunia akhirat. Kita minta kepada Allah agar tubuh kita "ringan" melakukan kebaikan, hati kita "benci" pada hal-hal yang tidak berguna, dan jiwa kita "lembut" sehingga cinta kepada orang-orang kecil (miskin).

 2. Keutamaan Berbuat Baik dan Mencintai Orang Miskin

Bapak dan Ibu yang sepuh namun bersemangat, mengapa kita perlu mencintai orang miskin?

   Jalan Menuju Surga: Memberi makan orang miskin adalah ciri penghuni surga [1]. Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa penduduk surga adalah mereka yang memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan (QS. Al-Insan: 8).
 


   Tameng dari Siksa: Salah satu penyebab orang masuk neraka adalah karena semasa hidupnya tidak mau berbagi dengan orang miskin (QS. Al-Muddaththir: 43-44).



   Mendapat Cinta Allah: Jika Bapak dan Ibu ingin dicintai Allah, cintailah mahluk-Nya di bumi. Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah yang Maha Pengasih.


Kisah Zaman Nabi:
Dahulu ada seorang sahabat yang merasa hatinya keras, susah menangis, dan merasa hambar dalam ibadah. Nabi SAW menyarankan: "Jika engkau ingin hatimu lembut, berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim" (HR. Ahmad).

 Ternyata, berbagi bukan hanya mengenyangkan perut orang lain, tapi juga "mengobati" hati kita yang kaku.
 
Contoh Sehari-hari di Tanah Suci:

Saat Bapak/Ibu sedang mengantre atau di jalan, jika melihat petugas kebersihan atau jamaah lain yang tampak lelah, berilah sekotak kurma atau sebotol air. Senyuman mereka adalah doa yang langsung menembus langit untuk kemabruran haji kita.

 3. Ibadah, Sedekah, dan Kesehatan di Usia Senja

Secara ilmu pengetahuan modern, mengapa berbuat baik sangat penting bagi kesehatan orang tua?
   Hormon Kebahagiaan: Saat kita memberi atau melihat orang lain senang karena bantuan kita, otak kita melepaskan hormon Oksitosin dan Endorfin. Hormon ini adalah "obat alami" yang membuat jantung lebih sehat, menurunkan tekanan darah, dan membuat tidur lebih nyenyak.
   Pembersih Pikiran: Pikiran yang bersih dari rasa pelit dan sombong akan menjauhkan kita dari stres. Bagi Bapak/Ibu, pikiran yang tenang sangat penting agar sistem imun tubuh tetap kuat selama menjalankan ibadah haji yang menguras fisik.
   Sedekah Sebagai Terapi: Ibadah bukan hanya shalat, tapi juga membahagiakan sesama. Hati yang senang karena sering berbagi akan membuat wajah tampak bercahaya dan awet muda secara spiritual.

 4. Menjaga Haji Mabrur

Menjaga kemabruran haji itu dimulai dari sini, di tanah suci, dan dilanjutkan nanti di tanah air. Caranya adalah dengan menjaga hati agar tetap lembut. Jangan sampai haji kita rusak karena merasa lebih tinggi dari orang lain. Ingatlah, mencintai orang miskin adalah cara terbaik untuk tetap rendah hati (tawadhu).



 
 5. Kesimpulan dan Penutup

Bapak dan Ibu rahimakumullah, sebagai kesimpulan:

  1. Cintailah sesama, karena itu adalah jalan pintas menuju cinta Allah 
  2. Lembutkan hati dengan banyak berbagi, meskipun hanya sebiji kurma
  3. Jaga kesehatan dengan selalu merasa bahagia dan ikhlas dalam menolong orang lain.
Mari kita berjanji, sepulang dari sini, kita akan menjadi pribadi yang lebih peduli pada tetangga kita yang kekurangan. Semoga Allah menerima ibadah haji kita, menyehatkan fisik dan batin kita, serta mengumpulkan kita semua di surga-Nya kelak.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh



Masjid Darul Hayat (Belakang SPBU)


12 Agustus, 2026

Menembus Batas Usia: Perjalanan Meraih Gelar Doktor S3 dalam 2 Tahun 2 Bulan






20 Tahun "Off" Buka Buku Scientific, Lulus Doktor S3 di Usia 59: Tidak Ada Kata Terlambat!


Siapa bilang belajar ada batas kedaluwarsa?

Di usia 57 tahun, saya memutuskan untuk kembali melompat ke dunia akademis. Jalur yang dipilih pun tidak main-main: Program Doktoral (S3) Manajemen Pendidikan Islam di UIN Raden Mas Said Surakarta.

Jujur saja, pertimbangannya cukup mendalam. Terakhir kali saya merasakan bangku perkuliahan S2 adalah tahun 2003. Artinya, sudah 20 tahun saya tidak menyentuh buku teks kuliah, apalagi membedah artikel-artikel ilmiah modern.

Awalnya sempat terlintas keraguan: "Apakah di usia seperti ini saya masih sanggup?"

Keraguan itu sirna setelah saya berdiskusi dengan salah satu dosen di UIN Surakarta. Jawaban beliau singkat, namun membakar semangat:

“Bapak sangat mampu!”

Kalimat sederhana itulah yang menjadi amunisi rasa percaya diri (pede) saya untuk membulatkan niat dan melangkah mantap.

Kelas Kecil, Semangat Besar

Di kelas S3, kami hanya bersembilan. Yang unik, beberapa dosen pengajar usianya jauh lebih muda dari saya. Namun, pesimis? Sama sekali tidak. Bagi saya, ilmu tidak pernah memandang usia.

Pengalaman bertahun-tahun di lapangan menjadi modal yang sangat berharga. Berbekal rekam jejak memimpin lembaga—pernah dipercaya menjadi Direktur Pondok sekaligus Kepala Sekolah di usia 23 tahun—membuat dinamika perkuliahan terasa begitu hidup. Baik saat tatap muka langsung maupun diskusi via Zoom, saya kerap dipercaya rekan-rekan untuk memimpin alur presentasi dan diskusi.

Perjalanan 2 Tahun 2 Bulan: Dari Proposal hingga Toga

Alhamdulillah, berkat komitmen, konsistensi, dan pertolongan Allah SWT, maraton akademik ini berhasil diselesaikan dalam waktu 2 tahun 2 bulan.

Jika ditengok kembali, setiap episodenya terasa sangat berkesan:

 * 📌 September 2023 – Resmi masuk dan memulai perkuliahan S3

 * 📌 November 2024 – Lulus Ujian Seminar Proposal

 * 📌 Agustus 2025 – Lulus Ujian Seminar Hasil

 * 📌 Januari 2026 – Melewati Ujian Tertutup

 * 📌 Februari 2026 – Melaksanakan Ujian Terbuka

 * 🎓 Juli 2026 – Momen kebanggaan: Wisuda S3

Riset Disertasi

Untuk tugas akhir pertanggungjawaban akademis ini, saya memilih penelitian kuantitatif dengan 4 variabel yang diangkat langsung dari dunia nyata yang dekat dengan keseharian saya:

"PENGARUH PERILAKU KERJA INOVATIF, KOMPETENSI DAN PERSEPSI ATAS KOMPENSASI TERHADAP KINERJA PROFESIONAL PADA GURU DI YAYASAN AL ABIDIN SURAKARTA TAHUN 2024"

> 

Catatan Pengingat Diri

Perjalanan ini menegaskan satu hal penting: tidak ada kata terlambat untuk menuntut ilmu dan menantang batas kemampuan diri. Selama niat diikat kuat, pengalaman dipadukan dengan kerendahan hati untuk belajar hal baru, serta doa terus dilangitkan, jalan akan selalu dibukakan.

Semoga cerita singkat ini bisa memantik semangat bagi siapa saja yang sedang ragu untuk melangkah meraih mimpinya. Berapa pun usia Anda hari ini, teruslah belajar dan berkarya! 📚✨