10 Tahun Menjaga Amanah di YPIA: Menjaga Marwah Lembaga Umat,
Meneruskan Jejak Sang Ayah
Waktu berjalan begitu cepat. Tidak terasa, tepat di bulan Februari 2026 ini, genap 10 tahun saya menjadi bagian dari kepengurusan Yayasan Pendidikan Al Mukmin (YPIA). Sebuah perjalanan panjang yang diawali dari silaturahmi penuh amanah.
Masih teringat jelas ketika Ustadz Farid Ma'ruf (Pembina YPIA) berkenan datang langsung ke rumah saya. Beliau meminta saya mengisi posisi Bendahara Yayasan untuk meneruskan estafet perjuangan almarhum ayah saya, Haji Soeparno Zainal Abidin, yang sebelumnya mengemban amanah tersebut.
📌 2016–2021: Pengabdian Tulus Tanpa Pamrih
Di lima tahun pertama, peran sebagai bendahara masih sebatas formalitas—memeriksa laporan keuangan dan memantau tugas rutin biro keuangan, belum sampai pada penataan cash flow. Selama periode ini, tidak ada kompensasi berupa gaji maupun tunjangan. Semua dijalankan murni secara sukarela dan tanpa pamrih.
Niat saya sederhana: membantu para pemimpin yayasan. Dalam perjalanan tersebut, kita kehilangan tokoh-tokoh hebat secara berurutan, mulai dari Ustadz Wahyudin, Ustadz Mualif Rosyidi, hingga Ustadz Ibnu Chanifah yang wafat saat menjabat. Hingga akhirnya sejak tahun 2021, kepemimpinan dipegang langsung oleh dua sesepuh kita: Ustadz Farid sebagai PLT Ketua Yayasan dan Ustadz Taufik sebagai Ketua Pembina Yayasan.
📌 2021–2025: Era Pembenahan dan Rencana Induk Pengembangan (RIP)
Memasuki tahun 2021, intensitas kerja saya bertambah. Saya mulai masuk kantor secara rutin untuk menata sistem cash flow keuangan yayasan. Di era ini pula jumlah staf berkembang hingga 23 orang sesuai arahan Pembina.
Untuk membawa YPIA ke arah yang lebih terukur, saya bersama sahabat sejak di pondok SMP-SMA, Rosyid Wahyudi (Kabid SDM), merancang dan mengusulkan Rencana Induk Pengembangan (RIP) serta Program Kerja Tahunan YPIA.
Ujian Amanah: YPIA Milik Umat, Bukan Yayasan Keluarga
Roda organisasi tidak selalu berjalan mulus. Masalah timbul ketika diangkat seorang pembantu sekretaris. Hadir sikap arogan dan ambisius yang mencoba menguasai urusan serta mengabaikan peran pengurus inti yang sah secara hukum.
Banyak pihak di lingkungan YPIA dan pondok merasa tidak nyaman, namun enggan bersuara karena rasa ewuh pakewuh terhadap orang tuanya. Kebanyakan memilih pasrah dan menunggu masa jabatan berakhir.
Namun, sebagai seorang yang terbiasa berdagang dan berwirausaha, saya tidak bisa berdiam diri. YPIA adalah milik umat, bukan milik keluarga. Tidak boleh ada dominasi relasi kuasa keluarga yang mengorbankan profesionalisme dan kepentingan lembaga. Harus ada langkah tegas untuk menyelamatkan organisasi dari pengaruh yang merugikan.
📌 Februari 2026: Babak Baru di Majelis Pembina
Takdir Allah SWT selalu bekerja dengan cara terbaik. Tepat pada Februari 2026, atas perintah langsung dari para pendiri yayasan, saya diamanahkan untuk masuk ke dalam Majelis Pembina Yayasan mendampingi para sesepuh.
Catatan Pengingat Diri
Semoga ikhtiar ini bernilai birrul walidain untuk meneruskan amal sholeh ayahanda, sekaligus membawa keberkahan bagi kemajuan YPIA. Mohon doa agar amanah baru ini senantiasa dibimbing Allah SWT dan membukakan jalan kebaikan dunia serta akhirat. 🤲✨